Saya ingin berbagi satu cerita sederhana. Semoga dari cerita ini, kita bisa belajar untuk lebih bersyukur atas nikmat Allah dan menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya. Karena sering kali, Allah mencintai kita jauh lebih besar dari yang mampu kita sadari.

Di sebuah rumah sakit swasta di Riyadh, Arab Saudi, seorang pria lanjut usia sekitar 78 tahun dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan berat. Kondisinya melemah sehingga dokter memutuskan untuk memberinya bantuan oksigen selama satu hari penuh agar tubuhnya kembali stabil. Selama 24 jam, ia bergantung pada alat bantu pernapasan untuk bertahan dan memulihkan tenaga.

Beberapa jam kemudian, kondisinya mulai membaik. Dokter pun mengizinkannya beristirahat tanpa alat bantu dan menyerahkan tagihan perawatan sebesar 600 riyal Saudi. Saat pria itu membaca angka di lembar tagihan, air matanya jatuh. Dokter yang melihatnya mengira ia sedih karena biaya yang harus dibayar dan mencoba menenangkannya.

Namun pria itu menjelaskan bahwa ia tidak menangis karena tidak mampu membayar. Ia berkata bahwa dirinya sanggup melunasi biaya tersebut. Ia menangis karena baru menyadari satu hal. Hanya untuk 24 jam menghirup oksigen buatan, ia harus membayar sejumlah uang. Sementara selama 78 tahun hidupnya, ia telah menghirup udara yang Allah berikan setiap detik tanpa pernah diminta bayaran apa pun. Lalu dengan suara pelan, ia bertanya, betapa besarnya utang dirinya kepada Allah.

Mendengar perkataan itu, dokter terdiam. Kepalanya tertunduk dan air matanya ikut jatuh. Keduanya sama-sama sadar bahwa ada nikmat besar yang selama ini dianggap biasa, padahal nilainya tidak terukur oleh apa pun di dunia.

Berapa puluh tahun kita telah bernapas dengan lancar. Berapa banyak udara yang kita hirup sejak lahir hingga hari ini tanpa pernah memikirkan dari mana asalnya. Tanpa tagihan. Tanpa syarat. Tanpa peringatan. Semua diberikan Allah dengan penuh kasih sayang.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa bersyukur bukan hanya tentang rezeki besar atau hidup yang mudah. Bersyukur juga tentang hal-hal paling dasar yang membuat kita tetap hidup hari ini. Napas. Kesehatan. Waktu. Kesempatan untuk kembali kepada Allah. Jika nikmat yang paling sederhana saja tidak sanggup kita bayar, maka betapa pantasnya kita lebih banyak bersyukur dan lebih mencintai Allah yang telah memberi segalanya tanpa henti.