Dalam sebuah wawancara penuh hikmah, Sheikh Yahya Adel Ibrahim membahas berbagai persoalan kehidupan rumah tangga: mulai dari konflik antara ibu dan istri, penyebab perselingkuhan, cara menghadapi pasangan yang berselingkuh, hingga makna kebahagiaan dalam keluarga. Berikut penjelasan lengkapnya.

 

Saat Terjebak Antara Ibu dan Istri

Sheikh Yahya menjelaskan bahwa seorang anak harus memahami bahwa cinta seorang ibu berbeda dengan cinta seorang istri.
Masalah sering muncul bukan karena ibu dan istri saling membenci, tetapi karena sang anak atau suami kurang berkomunikasi dengan ibunya.

Ketika seorang laki-laki jarang berbicara dengan ibunya, tidak menelpon, atau jarang menunjukkan kasih sayang, sang ibu mulai berpikir:

“Sekarang dia sudah lupa pada saya karena istrinya.”

Padahal, perasaan seperti itu alami. Maka tugas suami adalah memberikan perhatian lebih pada ibunya: menelpon di pagi dan malam hari, memberi hadiah, berbagi cerita, dan tidak membuatnya merasa ditinggalkan.
Jika suami memperlakukan ibunya dengan baik, maka ibunya tidak akan memandang istri sebagai pesaing.

Masalah sesungguhnya bukan antara ibu dan istri, melainkan anak laki-laki yang lemah dalam menjaga hubungan dengan ibunya.

 

Penyebab Selingkuh dalam Pernikahan

Menurut Sheikh Yahya, perselingkuhan tidak hanya berupa hubungan fisik, tetapi bisa juga emosional dan bahkan digital. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mata bisa berzina, telinga bisa berzina, tangan bisa berzina, kaki bisa berzina, dan akhirnya kemaluan yang membenarkannya atau menolaknya.”

Artinya, jika seseorang melihat yang haram di ponselnya, menulis pesan yang tidak pantas, atau berbicara mesra dengan lawan jenis – itu semua termasuk bentuk pengkhianatan.

Yang paling berbahaya adalah pengkhianatan hati – ketika cinta dan perhatian yang seharusnya untuk pasangan diberikan kepada orang lain.

 

Hati yang Sakit

Sheikh Yahya menegaskan:

“Wallahi, laki-laki yang akan selingkuh, meskipun istrinya memperhatikannya 24 jam sehari, dia tetap akan selingkuh. Karena hatinya sakit – ‘marid’.”

Perselingkuhan terjadi bukan karena kurang perhatian, tetapi karena kurangnya iman dan pengawasan terhadap diri sendiri (muraqabah).
Orang yang takut kepada Allah akan menjaga pandangan, hati, dan perilakunya.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan:

“Berikan kabar kepada orang yang berzina, bahwa Allah akan membuka aibnya di rumahnya sendiri.”

Haram tidak bisa disembunyikan. Allah akan menyingkap dosa, bahkan di tempat yang paling rahasia.

 

Menghadapi Pasangan yang Selingkuh

Sheikh Yahya menyebut ada dua cara menghadapi hal ini – cara mudah (tapi salah) dan cara sulit (tapi benar).

1. Cara mudah: marah, menceritakan aib pasangan kepada keluarga, dan menuntut perceraian.
Namun ini akan membuat hidup semakin sengsara, karena rasa malu dan kebencian akan terus membekas.

2. Cara sulit: membantu pasangan untuk berubah.

Ada tiga langkah untuk memperbaiki diri setelah berbuat salah:

1. Muhasabah (Menyesali Diri)

Seseorang harus sadar sendiri bahwa perbuatannya salah, bukan karena ditekan orang lain. Penyesalan harus datang dari hati yang sadar bahwa dirinya telah berbuat dosa.

2. Mengendalikan Diri

Harus ada tindakan nyata untuk menghentikan kebiasaan buruk. Misalnya mengganti ponsel, memblokir situs haram, mengganti Wi-Fi, menjauh dari teman yang menjerumuskan, atau apa pun yang membantu menghentikan maksiat.

3. Berkorban untuk Menebus Kepercayaan

Pelaku kesalahan harus melakukan sesuatu untuk menenangkan hati pasangannya – menunjukkan kesungguhan, meminta maaf dengan tindakan, dan berkorban demi memperbaiki hubungan.

Jika seseorang tidak mau berubah, maka tandanya langkah pertama belum dilakukan dengan jujur. Bila hatinya tetap keras dan kejahatan berulang, maka perceraian menjadi pilihan yang sah.

“Perceraian bukanlah kata kotor,” kata Sheikh Yahya. “Kadang justru lebih baik daripada hidup dalam dosa dan kebohongan.”

Kisah Nyata: Komunikasi dan Kesalahpahaman

Sheikh Yahya juga menceritakan kisah nyata seorang suami di Australia yang menikah dengan wanita dari budaya berbeda.
Suatu hari, sang suami kesal karena rumahnya berantakan – ternyata mertua yang datang membantu membersihkan rumah. Namun, sang istri tidak menjelaskan bahwa suaminya tidak suka barang dipindahkan.

Ketika Sheikh Yahya menengahi dan berbicara dengan sang mertua, wanita itu berkata,

“Saya hanya ingin menunjukkan cinta saya. Saya pikir membantu membersihkan rumah adalah bentuk kasih sayang.”

Setelah dijelaskan, suami itu menyadari niat baik mertuanya dan akhirnya bahagia.
Pesannya: banyak konflik rumah tangga terjadi bukan karena kebencian, tetapi karena miskomunikasi.

 

Cinta dan Konflik dalam Rumah Tangga

Sheikh Yahya mengingatkan bahwa pasangan suami istri pasti pernah tidak saling suka, tapi tetap saling mencintai.
Rasulullah ﷺ pun pernah berselisih dengan istri-istrinya, hingga berpisah tempat selama hampir sebulan, namun tetap penuh kasih dan menghormati mereka.

“Kamu bisa tidak menyukai pasanganmu sesaat, tapi tetap mencintainya,” ujarnya.

 

Nasihat dari Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad pernah berkata,

“Selama 20 tahun menikah, aku tidak pernah marah kepada istriku, dan dia pun tidak pernah marah kepadaku.”

Ketika ditanya bagaimana caranya, beliau menjawab:

“Jika aku berkata sesuatu yang tidak disukainya, dia diam. Jika dia berkata sesuatu yang tidak kusukai, aku diam. Kami menahan diri sebentar, lalu kembali berdamai.”

 

Istri yang Baik Menurut Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik wanita adalah yang, ketika suaminya melihatnya, hatinya merasa tenang.”

Wanita yang baik menjaga rumah, keluarga, dan kehormatannya.
Namun suami juga harus adil:

“Untuk membuat istri menjadi ratu, engkau harus menjadi raja. Dan untuk menjadi raja, engkau harus memperlakukan dia seperti seorang ratu.”

 

Membantu Istri di Rumah

Sheikh Yahya juga menegaskan bahwa suami sejati bukan hanya pemberi nafkah, tapi juga hadir dan membantu.
Rasulullah ﷺ sendiri membantu pekerjaan rumah: menjahit bajunya, mencuci, dan melayani keluarganya.

> “Setiap dua hari saya mencuci pakaian di rumah,” kata Sheikh Yahya. “Nilai suami di rumah bukan hanya dari uang yang dibawa, tapi dari perannya di dalam rumah.”

Menurut penelitian Harvard yang dikutipnya, 60% wanita merasa semakin mencintai suaminya saat suami bersedia membantu di rumah.

 

Cara Istri Membahagiakan Suami

Ada tiga hal penting yang bisa membuat suami bahagia:

  1.  Membuat suami merasa dihargai – biarkan dia merasa sebagai “raja” di rumahnya.
  2. Menunjukkan kasih sayang terlebih dahulu, bukan hanya menunggu.
  3. Menjaga rahasia rumah tangga – jangan menyebarkan kesalahan suami kepada orang lain.

Begitu rahasia keluarga dibeberkan, kepercayaan akan sulit pulih.

 

Penutup

Sheikh Yahya menutup dengan pesan yang lembut namun tegas:

“Kebahagiaan rumah tangga tidak datang dari uang, tapi dari hati yang saling menghargai, mengasihi, dan saling memaafkan. Jika kamu ingin istrimu menjadi mataharimu, maka buatlah semua wanita lain hanya seperti bintang di kejauhan.”