Iblis tidak pernah datang dengan wajah menakutkan atau ajakan terang terangan menuju kesesatan. Ia tidak mengetuk pintu sambil membawa kehancuran. Ia datang pelan sabar dan nyaris tak terasa. Tujuannya satu menjauhkan hati kita dari Allah sedikit demi sedikit tanpa kita sadari.
Ada satu tanda yang seharusnya membuat kita benar benar takut. Bukan takut pada dunia tapi takut pada iman kita sendiri. Tanda itu adalah ketika dosa tidak lagi mengganggu hati. Saat kita melanggar perintah Allah tapi hati terasa biasa saja.
Salat terlewat tanpa rasa kehilangan. Melihat yang haram berbohong membicarakan orang lain lalu tidur dengan tenang. Itu bukan ketenangan. Itu tanda bahaya. Seorang mukmin akan merasa sakit ketika berdosa. Ia menyesal ketika jatuh dan ingin segera kembali. Tapi ketika hati tidak lagi bereaksi di situlah Iblis mulai menang.
Dosa bukan sekadar perbuatan. Setiap dosa meninggalkan noda di hati. Satu demi satu hingga hati menjadi gelap dan tertutup. Bukan buta mata tapi buta dari petunjuk. Tanda lain kemenangan Iblis adalah ketika tobat selalu ditunda. Kita berkata nanti masih muda atau satu kali lagi. Kata paling disukai Iblis adalah nanti.
Nanti membuat banyak orang mati tanpa tobat. Nanti memenuhi kuburan. Nanti membuat manusia berdiri di hadapan Allah dengan tangan kosong. Tanda berikutnya adalah doa yang melemah bahkan menghilang. Kita masih percaya Allah ada tapi tidak lagi memohon dan menangis di hadapan Nya. Salat dilakukan dengan tubuh sementara hati pergi entah ke mana.
Iblis tahu orang yang berdoa dengan sungguh sungguh sulit dikalahkan. Maka ia tidak selalu mengajak pada kekafiran. Kadang ia hanya memutus hubungan hati kita dengan Allah. Tanda lain adalah saat dosa mulai dibenarkan. Kita berkata semua orang melakukannya Allah Maha Pengampun atau setidaknya kita tidak seburuk mereka. Rahmat Allah dijadikan alasan untuk bertahan dalam dosa bukan untuk kembali.
Tanda paling berbahaya adalah sibuk memperbaiki orang lain tapi lalai pada hati sendiri. Mudah melihat kesalahan orang lain tapi tidak merasa darurat memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Iblis sangat menyukai rasa aman yang lahir dari membandingkan diri dengan orang lain. Pesan ini bukan untuk menjatuhkan. Ini peringatan karena Allah masih peduli. Jika Allah meninggalkan kita nasihat seperti ini tidak akan pernah sampai ke hati kita.
Kembalilah segera meski belum sempurna. Jika belum mampu meninggalkan dosa sepenuhnya menjauhlah perlahan. Allah tidak menuntut kesempurnaan. Allah menuntut usaha. Paksa diri kembali salat meski hati terasa mati. Berdoalah meski air mata belum jatuh. Hati hidup bukan dalam semalam tapi melalui ketekunan.
Iblis merayakan saat kita jatuh. Tapi ia panik ketika kita merendah dan bertobat. Selama napas masih ada pintu tobat selalu terbuka. Jangan biarkan Iblis menang diam diam. Bangun sebelum terlambat. Kembalilah kepada Allah dengan hati yang remuk karena Allah mencintai hamba yang kembali lebih dari hamba yang tidak pernah jatuh.