Allah bukan hanya Tuhan yang disembah. Dia adalah tempat cinta dan pengabdian. Dia adalah satu-satunya cinta yang tidak menyakitkan dan tidak membuat kita merasa kurang. Cinta kepada Allah memberi ketenangan, bukan luka.
Banyak puisi dan kisah cinta di dunia berbicara tentang cinta yang penuh penderitaan. Orang rela terluka demi cinta, bahkan merasa bahagia dalam kesakitan itu. Namun cinta kepada Allah berbeda. Cinta ini penuh dengan ketenangan dan kepuasan. Tidak ada kekosongan, tidak ada haus yang tidak terisi.
Itulah makna dari nama Allah Al-Ilah , Dia bukan hanya yang disembah, tapi juga yang paling dicintai, yang menjadi tempat berlari di saat senang maupun susah. Saat hati gembira, kita langsung mengucap Alhamdulillah. Saat kecewa, kita spontan berkata Subhanallah. Itulah bentuk cinta dan pengakuan bahwa kita selalu kembali kepada-Nya.
Allah, Penguasa Timur dan Barat
Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dia adalah Tuhan Timur dan Barat.”
Timur adalah tempat matahari terbit, barat adalah tempat matahari terbenam. Siang dan malam berganti, tapi Allah tetap sama, tetap menjadi penguasa di setiap waktu.
Artinya, tidak peduli bagaimana perubahan dalam hidup kita, baik dalam terang maupun gelap, di waktu senang atau sulit, kita selalu memiliki satu tempat untuk berpaling, yaitu Allah.
Ketika Allah menyebut diri-Nya sebagai penguasa timur dan barat, itu juga menandakan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada dalam kekuasaan-Nya. Kemenangan dan perubahan yang tampak lambat tetap berjalan dalam rencana-Nya.
Serahkan yang di Luar Kendali
Manusia sering ingin mengendalikan segalanya. Kita ingin mengatur bagaimana orang lain berpikir, bereaksi, atau mencintai kita. Tapi Allah mengajarkan bahwa hati manusia bukan di tangan kita.
Bahkan Rasulullah ﷺ tidak bisa mengendalikan siapa yang akan menerima dakwah, siapa yang menolak, siapa yang marah, atau siapa yang berpaling. Allah ingin menunjukkan bahwa manusia hanya bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Kita tidak bisa mengontrol anak, pasangan, atau siapa pun. Yang bisa kita kendalikan hanyalah diri kita. Maka, serahkan hal-hal di luar kendali itu kepada Allah.
Makna Tawakkal yang Sebenarnya
Kata tawakkal berasal dari akar kata yang berarti seseorang yang terlalu lemah atau tidak mampu menyelesaikan sesuatu sendiri, sehingga ia berkata, “Aku serahkan kepadamu.”
Maka tawakkal berarti menyerahkan urusan kepada Allah dengan penuh kepercayaan, bukan karena malas, tapi karena kita tahu hanya Dia yang mampu mengatur hasil.
Kita tetap berusaha, tetap melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita. Tapi setelah itu, kita serahkan hasilnya kepada Allah.
Contoh dari Kisah Aisyah R.A
Nouman Ali Khan mencontohkan kisah ketika Aisyah difitnah dengan tuduhan keji. Fitnah itu menyebar luas. Dari satu orang ke dua, lalu ke puluhan, hingga ke ratusan.
Aisyah tidak bisa melacak siapa yang memulai, siapa yang menambah cerita, siapa yang hanya mendengar dan diam. Semua itu di luar kendali manusia. Tapi Allah menenangkan Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin agar membiarkan Allah yang menanganinya.
Orang yang berbuat dosa dengan menyebar fitnah akan menanggung dosanya masing-masing sesuai kadar perbuatannya. Namun Allah tidak meminta kita mencari siapa pelakunya, karena itu bukan urusan kita.
Melepaskan Hasrat untuk Balas Dendam
Salah satu ujian terbesar dalam tawakkal adalah memaafkan dan melepaskan keinginan untuk melihat orang lain dihukum.
Sering kali kita berkata, “Mengapa orang yang menyakiti saya tetap bahagia?” atau “Mengapa Allah belum menghukum mereka?”
Pertanyaan seperti itu muncul karena kita masih ingin mengendalikan hasil. Kita ingin tahu bagaimana Allah akan menegakkan keadilan. Kita ingin menyaksikan balasan itu terjadi.
Namun, keadilan Allah jauh lebih sempurna daripada konsep keadilan kita. Allah lebih tahu apa yang dirasakan hati kita, dan Dia lebih tahu bagaimana membalas setiap perbuatan. Jika kita benar-benar percaya pada-Nya, maka lepaskan rasa ingin tahu itu.
Percaya kepada Allah berarti berhenti mengintip urusan-Nya. Seperti halnya kita mempercayai seseorang memasak untuk kita, kita tidak berdiri di sampingnya sambil berkata “Kau yakin tidak perlu garam lagi?”
Jika sudah percaya, kita tinggal menunggu dengan tenang.
Demikian pula dengan Allah. Bila kita telah menyerahkan urusan kepada-Nya, kita harus berhenti mengkhawatirkan bagaimana dan kapan hasilnya datang.
Belajar dari Rasulullah ﷺ
Saat orang Quraisy memanggil Nabi dengan sebutan penyair, pendusta, dan tukang sihir, beliau merasa sedih. Namun Allah menenangkannya dengan wahyu. Allah menyuruh Nabi untuk tidak membiarkan hal itu membebaninya, karena urusan mereka bukan urusan Nabi, tetapi urusan Allah.
Setelah Nabi beribadah di malam hari, Allah berfirman agar beliau tetap tenang menghadapi ejekan manusia. Allah yang akan menilai, Allah yang akan menindak.
Itulah makna tawakkal sejati, yaitu ketika hati mampu berkata, “Ya Allah, aku sudah berusaha sebaik yang bisa aku lakukan, selebihnya aku serahkan kepada-Mu.”
Ciri Orang yang Benar-benar Bertawakkal
Dalam surah Al-Fatihah kita mengucapkan, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Artinya, salah satu bentuk ibadah tertinggi adalah percaya penuh kepada Allah.
Orang yang benar-benar beribadah bukan hanya yang banyak berdoa, tapi yang tenang dalam kepercayaannya kepada Allah. Ia tidak gelisah tentang hal-hal yang tidak bisa dia ubah, karena ia tahu semua sudah diatur oleh Allah dengan sebaik-baiknya.